Menurut United States Pharmacopeia, tujuan dari System Suitability Testing dijelaskan sebagai berikut:
System suitability tests are an integral part of gas and liquid chromatographic methods. They are used to verify that the chromatographic system is adequate for the intended analysis. The tests are based on the concept that the equipment, electronics, analytical operations and samples to be analyzed constitute an integral system that can be evaluated as such.
Dalam terjemahan bahasa Indonesia:
Uji kesesuaian sistem merupakan bagian integral dari metode kromatografi gas maupun kromatografi cair. Pengujian ini digunakan untuk memverifikasi bahwa sistem kromatografi memadai untuk analisis yang dimaksud. Uji tersebut didasarkan pada konsep bahwa peralatan, sistem elektronik, operasi analitik, dan sampel yang akan dianalisis merupakan suatu sistem terpadu yang dapat dievaluasi sebagai satu kesatuan.
Dalam praktik laboratorium, System Suitability Testing (SST) dilakukan melalui serangkaian pengukuran terhadap kromatogram yang diperoleh dari injeksi tertentu selama proses analisis. Pengukuran tersebut memberikan indikasi apakah metode analisis dan sistem kromatografi (misalnya HPLC) berfungsi sebagaimana yang diharapkan.
Parameter system suitability yang umum digunakan telah dijelaskan oleh U.S. Food and Drug Administration dan biasanya mencakup parameter seperti:
- resolusi (resolution)
- faktor tailing (tailing factor)
- jumlah pelat teoritis (theoretical plates)
- presisi injeksi (repeatability / %RSD)
- waktu retensi (retention time)
Definisi dari parameter-parameter tersebut biasanya disajikan dalam bentuk tabel dan gambar yang menjelaskan cara pengukurannya pada kromatogram.
Kriteria penerimaan (acceptance criteria) untuk parameter system suitability umumnya didasarkan pada rekomendasi dari FDA, yang sering digunakan sebagai kriteria umum (generic acceptance criteria) pada saat pengembangan metode analisis baru.
Namun demikian, persyaratan tambahan dapat diterapkan sesuai dengan tujuan metode analisis. Sebagai contoh, pada metode yang digunakan untuk mendeteksi impuritas pada kadar sangat rendah, dapat ditambahkan parameter untuk mengevaluasi sensitivitas detektor.
Apa yang Terjadi Jika System Suitability Gagal?
Jika system suitability gagal, maka aturan dasarnya sangat jelas:
Data analisis tidak boleh digunakan.
No sample analysis is acceptable unless the suitability of the system has been demonstrated.[1]
Laboratorium harus melakukan investigasi untuk menemukan akar penyebabnya.
Namun dalam praktiknya, banyak sistem HPLC modern berjalan secara otomatis, sehingga hasil analisis sering kali sudah dihasilkan sebelum SST dievaluasi.
Dalam kondisi seperti ini, dokumentasi harus menjelaskan dengan jelas alasan penolakan data.
Regulator seperti U.S. Food and Drug Administration dan Medicines and Healthcare products Regulatory Agency juga mengharuskan data system suitability ditinjau kembali ketika terjadi investigasi:
โข Out of Specification (OOS)
Certain analytical methods have system suitability requirements, and systems not meeting these requirements should not be used.[3]
โข Out of Trend (OOT)
Walaupun SST sudah dievaluasi sebelumnya, regulator tetap mengharapkan seluruh data analisis ditinjau kembali selama investigasi laboratorium.
3 Penyebab Paling Umum Kegagalan System Suitability
Berdasarkan pengalaman di laboratorium QC, sebagian besar kegagalan SST biasanya berasal dari tiga faktor utama.
1๏ธโฃ Degradasi Kolom HPLC
Kolom HPLC adalah komponen yang bersifat consumable dan akan mengalami penurunan performa seiring waktu.
Dampaknya terhadap kromatografi biasanya berupa:
- penurunan resolusi
- penurunan efisiensi kolom
- peningkatan tailing
Idealnya, system suitability dapat membantu mengidentifikasi kapan kolom sudah tidak layak digunakan dan harus diganti.
Namun di banyak laboratorium, umur pakai kolom untuk suatu metode tidak pernah dipelajari secara sistematis, sehingga kriteria SST sering kali bersifat generik dan tidak spesifik terhadap metode.
Pendekatan yang lebih baik adalah melakukan:
- studi degradasi kolom saat pengembangan metode, atau
- monitoring performa kolom selama penggunaan rutin
Dengan demikian, kriteria SST dapat ditetapkan berdasarkan data ilmiah yang relevan dengan metode tersebut.
2๏ธโฃ Kompetensi Analis
Keberhasilan analisis HPLC sangat bergantung pada kompetensi analis.
Analis harus mampu:
- menyiapkan fase gerak dengan benar
- menyiapkan larutan uji secara akurat
- melakukan setup sistem HPLC dengan benar
Kesalahan kecil dapat berdampak besar, misalnya:
- kesalahan pH buffer โ mempengaruhi retention time
- kontaminasi fase gerak โ menghasilkan peak yang tidak diinginkan
- koneksi tubing yang tidak baik โ menyebabkan peak broadening
Jika analis memahami parameter kritis metode, maka mereka akan lebih berhati-hati dalam mengontrol faktor-faktor tersebut.
Karena itu, pelatihan yang memadai merupakan faktor kunci untuk mencegah kegagalan SST.
3๏ธโฃ Pemeliharaan Sistem HPLC
Instrumen HPLC yang tidak dipelihara dengan baik juga dapat menyebabkan kegagalan SST.
Contoh masalah yang sering terjadi:
- komponen injector yang aus โ repeatability buruk
- lampu UV detector yang sudah tua โ baseline noise meningkat
- pompa tidak dipriming dengan baik โ baseline tidak stabil
Perlu diingat bahwa system suitability bukan pengganti performance qualification (PQ) dari instrumen.
SST hanya memastikan bahwa metode dapat berjalan dengan baik pada saat analisis dilakukan, tetapi tidak menggantikan verifikasi performa instrumen seperti:
- akurasi flow rate
- akurasi panjang gelombang
- akurasi volume injeksi
- kontrol temperatur
Karena itu, pemeliharaan dan verifikasi performa instrumen secara rutin sangat penting.
Referensi
- United States Pharmacopeia (USP) โ Chromatography <621>
- FDA โ Reviewer Guidance: Validation of Chromatographic Methods, 1994
- FDA โ Guidance for Industry: Investigating Out-of-Specification (OOS) Test Results for Pharmaceutical Production, 2022
Editor : ID Santoso


Leave a Reply